Orang-orang Yahudi berusaha memasukkan beberapa aqidah baru ke dalam tubuh umat islam untuk menghancurkan persatuan dan kesatuan kaum Muslimin. Mereka membangun aliran dan sekte baru dalam islam melalui anak kesayangannya Abdullah bin Saba’. Aliran ini dinamakan dengan Syi’ah (Rofidhoh).

Namun, sebagian kaum muslimin dewasa ini tak mengetahui aqidah dan ajaran Syi’ah yang sebenarnya. Mereka menganggap bahwa Syi’ah adalah bagian dari umat islam. Bahkan mereka menetapkan bahwa perbedaan Syi’ah dengan kaum  muslimin seperti halnya perbedaan fikih antara imam empat madzhab.

Syi’ah meyakini dengan keyakinan yang mantap dan tak tersentuh sedikitpun oleh keraguan bahwa dua belas imam mereka maksum (terbebas) dari dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. Dua belas imam tersebut adalah:

1. Ali bin Abi Thalib.

2. Al-Hasan bin Ali.

3. Al-Husein bin Ali.

4. Zainal Abidin Ali bin Al-Husain.

5. Muhammad bin Ali bin Al-Husain Al-Baqir.

6. Ja’far bin Muhammad Ash-Shodiq.

7. Musa bin Ja’far Al-Khodim.

8. Ali bin Musa Ar-Ridho.

9. Muhammad bin Ali Al-Jawwad.

10. Ali bin Muhammad Al-Hadi.

11. Al-Hasan bin Ali Al-Askari.

12. Muhammad bin Al-Hasan Al-Mahdi

Sungguh aqidah dan keyakinan Syi’ah di atas bertentangan dengan Al-Qur’an  maupun as-Sunnah. Ajaran islam tidak menetapkan kemaksuman bagi selain para Nabi dan Rasul. Oleh karena itu, individu-individu para sahabat tidak maksum. Meskipun mereka adalah sebaik-baik umat sepanjang masa danzaman.

Rasulullah saw. bersabda:

“Sebaik-baik umatku adalah generasiku (yakni para sahabat) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (yakni para tabi’in), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (yakni para tabi’it tabi’in).” (HR.Bukhari dan Muslim)

Ajaran islam menetapkan bahwa kemaksuman hanya terjadi pada Nabi dan Rasul. Mereka terpelihara dari melakukan dosa-dosa besar seperti mencuri, berzina, minum khamar, sihir, menipu, menyembah patung dan lain-lain.

Ajaran Islam juga menetapkan sifat kemaksuman bagi Nabi dan Rasul dalam menyampaikan Risalah Ilahiyah. Mereka tidak lupa sedikit pun dari wahyu yang di terima dari Allah swt. Sebab Allah swt menjamin kepada para Rasul-Nya untuk membacakan wahyu agar mereka tidak melupakannya sedikitpun kecuali kalau Allah swt menghendaki.

Allah swt berfirman:

“Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki. Sesunggunya dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” (QS. al-A’la [87]: 6-7)

Para Nabi dan Rasul memiliki sifat maksum dari aspek menyampaikan risalah. Oleh karena itu, mereka tidak pernah sedikitpun menyembunyikan segala sesuatu yang Allah wahyukan kepada mereka. Allah swt memerintahkan kepada para Nabi dan Rasul agar menyampaikan risalah wahyu yang diturunkan kepada mereka.

Allah swt berfirman:

“Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) kami, niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya.” (QS. al-Haqqoh [69]: 44-46)

Ibnu Taimiyyah rahimallah berkata,

“Pendapat yang menyatakan para Nabi tidak maksum dari dosa-dosa kecil merupakan pendapat mayoritas para ulama Islam dan seluruh kaum Islam, hingga inilah pendapat yang dipilih oleh mayoritas ahli kalam. Abu al-Hasan al-Amidi juga menyatakan bahwa mayoritas Asy’ariyyah berpendapat demikian. Pendapat ini juga yang dipegang oleh mayoritas ahli tafsir, gadist, dan fikih. Bahkan tak terdapat satu riwiyat pun dari kalangan para imam, shahabat, tabi’in, dan pengikut tabi’in kecuali sesuia dengan pendapat ini.”

Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh mayoritas ulama sebagai berikut:

Allah swt berfirman mengisahkan Nabi Nuh as:

“Nuh berkata: Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada engkau dari memohon kepada engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud [11]: 47)

Allah swt berfirman mengisahkan Nabi Musa as:

“Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (QS. al-A’rof [7]: 155)

Allah swt berfirman mengisahkan tentang Nabi Muhammad saw:

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? dan Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (QS. at-Tahrim [66]: 1)

Dari ayat-ayat al-Qur’an di atas, sangat jelas bagi kita tentang kesesatan dan kebatilan aqidah Syi’ah. Al-Kulani, seorang ulama Syi’ah berkata, “Kami orang-orang kepercayaan Allah di bumi-Nya. kami mempunyai ilmu tentang musibah, kematian, nasab keturunan arab, dan kelahiran Islam. jika kami melihat seseorang, kami tahu apakah ia betul-betul beriman ataukah betul-betul munafik.”

Marilah kita perhatikan ayat Al-Qur’an.

Allah swt berfirman:

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’.” (QS. an-Naml [27]: 65)

Allah swt menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa siapapun,  bahkan Nabi dan Rasul sekali pun itu tidak mengetahui hal-hal ghaib, sedangkan orang-orang Syi’ah mengatakan bahwa tidak ada yang tersembunyi bagi imam-imam mereka tentang perkara ghaib.

Pin It on Pinterest

Share This