ACEH TIMUR – Duka mendalam menyelimuti warga Dusun Bidari, Desa Sijudo, pasca banjir bandang yang menyapu permukiman mereka. Salah satu kisah memilukan datang dari Siti Sar (80), seorang lansia yang kini terpaksa bertahan hidup di sebuah gubuk darurat setelah rumah dan seluruh harta bendanya hanyut tak bersisa.
Siti Sar menceritakan detik-detik mencekam saat air besar menghantam wilayahnya. Tidak hanya kehilangan tempat tinggal, ia mengaku kini kesulitan untuk sekadar menyiapkan makanan karena peralatan dapur pun ikut hilang terbawa arus.
“Kami menangis setiap hari di sini karena takut. Peralatan masak, priuk, bahkan parang untuk bekerja pun tidak ada lagi. Semuanya hanyut.” ungkap Siti Sar dengan suara bergetar. Kondisi ekonomi keluarga Nek Siti kian terpuruk lantaran lahan perkebunan durian yang menjadi sumber penghasilan juga mati terdampak banjir. Kini, ia hanya bisa berharap pada bantuan yang datang untuk menyambung hidup bersama anak dan cucunya.
Menjelang Ramadan, kekhawatiran Siti Sar kian memuncak. Fasilitas ibadah, meunasah, yang biasa ia gunakan untuk shalat tarawih danmengaji kini sudah rata dengan tanah. “Tempat sembahyang kami sudah tidak ada, Meunasah sudah habis.” tambahnya. Meski kondisi penglihatannya mulai kabur karena faktor usia, semangatnya untuk beribadah di bulan suci tetap kuat, asalkan fasilitas yang layak tersedia kembali.
Meski bantuan logistik dasar dari pihak kecamatan mulai tiba, warga Dusun Bidari seperti Siti Sar masih sangat membutuhkan peralatan rumah tangga dan pembangunan kembali sarana ibadah agar dapat menjalankan Ramadan dengan layak.
Wujudkan Harapan Warga Bidari Beriadah Kembali
Mari bantu 56 jiwa penyintas banjir memiliki meunasah sebelum Ramadan tiba melalui :
- Infaq via BSI: 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
- Info & Konfirmasi: 0812-9228-9783

