Laporan Langsung dari Aceh Timur
ACEH TIMUR – Isak tangis menyelimuti warga Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, pasca diterjang banjir bandang yang disebut sebagai bencana terparah sepanjang sejarah desa. Warga menilai banjir ini bukan semata faktor alam, melainkan dampak pembukaan lahan kelapa sawit secara besar-besaran di wilayah perbukitan.
Tokoh masyarakat setempat, Pak Midan, mengaku trauma atas bencana yang belum pernah mereka alami sebelumnya, bahkan sejak zaman leluhur.
“Seumur hidup saya, belum pernah terjadi banjir seperti ini. Kami yakin ini akibat pembukaan lahan besar besaran, termasuk penebangan liar di area atas bukit untuk perkebunan sawit HGU.” ujarnya.
Selain kerusakan lingkungan, warga juga mempertanyakan status Desa Sijudo yang kini disebut sebagai enclave di tengah lahan Hak Guna Usaha (HGU). Padahal, desa tersebut telah dihuni jauh sebelum kemerdekaan dan memiliki fasilitas permanen yang dibangun pemerintah, seperti Sekolah Dasar (SD),Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Pondok Bersalin Desa (Polindes).
“Kami sudah tinggal di sini sebelum merdeka, tapi sekarang desa kami justru disebut masuk HGU.” tambahnya.
Kecurigaan warga terhadap aktivitas penebangan liar semakin menguat setelah ditemukannya tumpukan kayu gelondongan bekas potongan chainsaw yang terbawa arus dan mengendap di pemukiman. “Jumlah kayunya sangat banyak. Kalau dibelah, cukup untuk membangun kembali rumah-rumah warga yang hanyut” ungkap Pak Midan. Warga Desa Sijudo mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menghentikan penebangan liar, mengevaluasi izin HGU, serta memberikan solusi konkret agar bencana serupa tidak kembali mengancam keselamatan dan ruang hidup mereka.
Mari ambil bagian dalam pemulihan Aceh.
- Tabung Infaq BSI: 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
- Info & Konfirmasi: +62 812-9228-9783
Bersama, kita bangkitkan Aceh.

