Jakarta – KH. Bachtiar Nasir, ulama pakar tadabbur yang juga Pimpinan AQL, Sekjen MIUMI, dan Ketua JATTI (Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia), menyampaikan khutbah Jumat (19/07/2024) di Masjid Ar-Rahman (AQl Islamic Center) yang menggugah hati mengenai kondisi terkini Gaza yang tengah mengalami bencana kelaparan akibat blokade dan serangan terus-menerus dari Zionis Israel.
Di awal khutbahnya, KH. Bachtiar Nasir menyoroti peristiwa besar yang lebih dari 8 bulan terjadi di Palestina. Demikian juga peristiwa besar yang terjadi di tubuh umat Islam Indonesia. Sebuah berita terkait, “Adanya penyusup zionis yang menyebarkan propaganda di tengah umat Islam untuk menyerang saudaranya sendiri. Sehingga perjalanan panjang itu terbongkar dengan dibukanya oleh Allah 5 utusan oknum dari Indonesia yang telah mengkhianati bangsanya, mengkhianati undang-undanganya dan mengkhianati rakyatnya, bahkan mengkhianati agama dan mengkhianati umat Islam.”
Selanjutnya, dalam khutbahnya yang berjudul “Bencana Kelaparan di Gaza”, KH. Bachtiar Nasir mengutip laporan dari Dr. Abdul Hakim Al-Waer, Asisten Direktur Jenderal FAO dan Perwakilan Regional untuk wilayah Timur Dekat dan Afrika Utara, yang menyebutkan bahwa setengah dari populasi Gaza tidak memiliki makanan, dan lebih dari 20% dari mereka menghabiskan sepanjang hari tanpa makanan apa pun.
“Kelaparan telah menyebabkan separuh keluarga di Gaza harus menukar pakaian mereka dengan makanan, dan dua pertiga keluarga terpaksa mengumpulkan sampah untuk dijual,” ungkap KH. Bachtiar Nasir dengan nada prihatin. Beliau juga menambahkan bahwa sekitar 96% penduduk Jalur Gaza, atau sekitar 2,15 juta orang, akan menghadapi krisis pangan besar pada September mendatang. Saat ini, sekitar 95% penduduk menderita kelaparan dengan berbagai tingkat.
Dengan kondisi yang sangat menyedihkan ini, KH. Bachtiar Nasir menggugah hati nurani umat, “Ini sungguh menyedihkan! Jangan berharap Masjidil Aqsha bisa kita kunjungi selama kita masih bersikap abai dan tidak mau bersatu. Kalau sudah lebih dari 120 ribu orang terbunuh dan kita belum juga bangkit, masih juga belum bersatu, butuh berapa nyawa lagi untuk kita korbankan dari mereka? Kalau sebagaian besar korbannya adalah dari anak-anak dan perempuan, kita juga masih belum sadar, Anda dan saya butuh berapa nyawa anak-anak yang mati dalam kondisi kelapatan?”
Selain itu, KH. Bachtiar Nasir menekankan bahwa umat Islam saat ini dihadapkan pada tanggung jawab besar untuk membantu saudara-saudara mereka di Gaza. “Tanggung jawab umat terhadap saudara-saudaranya di Gaza tidak sebatas hanya berdoa, akan tetapi harus dengan berbagai usaha dan dukungan yang bisa menolong mereka,” tegasnya. Beliau mengutip ayat Al-Quran yang relevan, “Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini” (QS. Muhammad: 38).
Dalam khutbahnya, KH. Bachtiar Nasir mengajak jamaah untuk merefleksikan penderitaan yang dialami masyarakat Gaza dengan mengingat kembali pengepungan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya di Syi’b Abu Thalib. “Kaum Quraisy memutuskan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Muttalib secara ekonomi dan sosial, tetapi mereka akhirnya berhasil keluar dari pengepungan tersebut berkat kesabaran dan perjuangan,” ujarnya. Beliau menjelaskan bahwa beberapa pemuda Quraisy, meskipun bukan dari Bani Hasyim dan Bani Muttalib, tidak rela dengan kezaliman tersebut dan berusaha mengakhiri pemboikotan, di antaranya Hisyam bin Amr, Zuhair bin Abi Umayyah, Muth‘im bin Adi, Abul Bakhtari bin Hisyam, dan Zam‘ah bin al-Aswad.
KH. Bachtiar Nasir juga mengingatkan umat Islam tentang pentingnya jihad dengan harta di samping jihad dengan jiwa. “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui,” katanya, mengutip surat at-Taubah ayat 41. Beliau menekankan bahwa saat ini, jihad dengan maal (harta) sangat diperlukan untuk memberikan pertolongan kepada saudara kita di Gaza. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lidah kalian” (HR Abu Dawud).
KH. Bachtiar Nasir menutup khutbahnya dengan doa agar Allah SWT menolong saudara-saudara kita di Gaza dan memberikan kekuatan kepada umat Islam untuk terus berjuang membantu mereka. “Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim,” katanya, mengutip hadits dari HR Muslim. Beliau juga menyerukan jamaah untuk menggunakan lisan dan media sosial mereka untuk terus memberikan dukungan kepada saudara-saudara kita di Gaza.
Selain itu, beliau mengajak jamaah untuk tidak mengonsumsi produk-produk dari Zionis Israel dan sekutunya sebagai bentuk boikot. “Dan jika Anda tidak dapat mengurangi rasa lapar mereka atau meringankan kekejaman perang yang mereka alami, maka boikotlah. Jangan makan makanan dan barang-barang dari Zionis Israel dan sekutunya,” serunya.
KH. Bachtiar Nasir juga mengingatkan jamaah untuk menanamkan kepedulian terhadap saudara-saudara kita di Gaza kepada keluarga mereka. “Tanamkan kepada keluarga kita tentang kepedulian kepada saudara-saudara kita. Tanamkan bahwa kaum muslimin itu ibarat satu tubuh, jika ada bagian yang sakit, maka anggota tubuh yang lainnya juga akan merasakan rasa sakit tersebut,” ujarnya. Beliau mengutip hadits Nabi Muhammad SAW, “Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)” (HR Muslim).
Secara umum, khutbah yang begitu menggugah semangat jama’ah ini mengajak umat Islam lebih peduli lagi dan bersatu untuk menolong mereka. Kalau ratusan ribu nyawa itu belum menggerakkan jiwa umat Islam, mau berapa lagi ada korban terbunuh. Yang tidak kalah penting, dalam situasi seperti ini, ketika ada oknum yang dengan santainya malah berjumpa dengan presiden Israel, ini merupaan pengkhianatan kepada bangsa, negara bahkan agama Islam. Mudah-mudahan umat Islam lebih peduli terhadap masalah Palestina dan tidak menjalin kerjasama apapun dengan zionis yang melakukan genosida di Palestina. (MBS)

