Relawan Laznas AQL Peduli Gelar Siram Rohani di Pedalaman Aceh

Share This Post

ACEH TIMUR – Suasana keakraban masyarakat di Dusun Rantau Panjang, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, di pedalaman Aceh Timur tampak sangat hangat antar sesama dan tenang menghadapi cobaan atas bencana banjir. Ketenangan ini dikarenakan meunasah yang mereka idamkan untuk diperbaiki sudah selesai diperbaiki dan bisa digunakan untuk salat berjamaah pada bulan Ramadan.

Seperti dituturkan Relawan dari AQL (Ar-Rahman Quranic Learning) yang tengah menjalankan misi pengabdian, Kamis (19/2/2026), ia menyatakan suasana sangat akrab saat buka puasa bersama di meunasah. Ada puluhan warga berkumpul hendak melaksanakan tradisi buka bersama (bukber) besar yang biasanya jatuh pada hari Jumat. Namun rasa keakraban dan kerinduan membuat bukber di meunasah serasa buka puasa besar dengan rasa kekeluargaan yang sangat kuat.

“Warga datang menenteng rantang dan piring berisi hidangan berbuka. Sederhana, namun penuh ketulusan. Di tengah kerumunan itu, para relawan dari AQL (Ar-Rahman Quranic Learning) yang tengah menjalankan misi pengabdian juga berbaur bersama,” ucapnya.

Usai berbuka puasa dan menjalankan salat wajib Magrib dan Isya, hingga salat sunah Tarawih dan Witir, Ustaz Nurdin melangkah maju ke depan. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari program misi siraman rohani bagi para  jamaah. Tema yang dibawa bukanlah hal yang berat, melainkan sangat ringan dan biasa dialami manusia, yakni tentang bau mulut orang berpuasa.

“Alhamdulillah, di tengah siram rohani atau kuliah tujuh menit (kultum) tadi warga sangat terhibur. Suasananya cair dan masyarakat tetap stabil (antusias),” ujar Ustaz Nurdin sembari tersenyum.

KULTUM RAMADAN: Relawan AQL Peduli, Ustaz Nurdin, saat memberi siraman rohani (kultum)Ramadan 1447 H usai salat Tarawih kepada jemaah dan penyintas bencana di Dusun Rantau Panjang, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, Kamis (19/2/2026). [AQL FOTO]
KULTUM RAMADAN: Relawan AQL Peduli, Ustaz Nurdin, saat memberi siraman rohani (kultum) Ramadan 1447 H usai salat Tarawih kepada jemaah dan penyintas bencana di Dusun Rantau Panjang, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, Kamis (19/2/2026).

Momen menarik terjadi saat sesi tanya jawab. Seorang pemuda setempat bernama Nadar melontarkan pertanyaan polos namun memancing tawa, “Bagaimana dengan orang yang bau mulut, tapi dia tidak puasa?” Ustaz Nurdin tidak langsung menjawab dengan dalil berat.

Ia melempar candaan segar, “Kalau itu, harus disiram pakai air biar baunya hilang!” selorohnya yang
disambut tawa jamaah.

Di balik candaan tersebut, dalam balutan ibadah di pedalaman Aceh Timur yang masih memiliki banyak keterbatasan fasilitas, baik jalan, jembatan, gedung pendidikan, maupun fasilitas kesehatan, Nurdin menekankan bahwa Islam adalah agama yang mencintai keindahan dan kebersihan sebagai bagian dari adab. Baginya, bau mulut saat berpuasa adalah “aroma perjuangan”.

“Jangan malu dengan bau mulut saat berpuasa. Sebab, di mata Allah, aroma itu lebih wangi melebihi minyak kasturi di akhirat nanti,” pesannya kepada warga. Kultum singkat itu ditutup dengan refleksi filosofis yang menyentuh hati. Nurdin mengingatkan bahwa standar “keren” di mata manusia itu fana, namun standar di hadapan Sang Khalik adalah abadi.

“Ramadan bukan tentang siapa yang paling segar penampilannya, tapi tentang siapa yang paling tulus pengorbanannya. Di balik bau yang dijauhi manusia, ada cinta Allah yang sedang mendekat,” pungkasnya. Malam itu di Dusun Rantau Panjang, meski jauh dari hiruk-pikuk kota, warga pulang dengan hati yang lebih “basah” oleh siraman rohani. Sebuah pesan sederhana tentang ketulusan telah sampai ke alamatnya. (*)

More To Explore