Yang Punah dan yang Abadi

Yang Punah dan Abadi

Share This Post

Allah Subahanhu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ۘ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَىْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۥ ۚ لَهُ ٱلْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Qashash ayat 88).

Menjadi punah dan menjadi abadi sejatinya adalah antara keniscayaan dan pilihan. Punah itu adalah keniscayaan. Namun, menjadi abadi itu adalah pilihan. Maksudnya begini, setiap manusia didalam teori kematian, sebenarnya sedang menuju titik kematian. Misalnya, orang yang sedang berobat ke rumah sakit. Faktanya, rumah sakit adalah tempat terbanyak dimana orang menjemput kematian. Namun, sayangnya tak banyak orang yang di dalam hatinya berniat untuk menjemput kematian, bila memang telah waktunya datang. Kebanyakan orang justru ke rumah sakit ingin kembali sehat.

Dalam teori kematian, Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menjumpai kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. Jumuah ayat 8).

Kematian di ayat ini, menyandang kata “menjumpai” bukan mengejar. Artinya, kematian itu datang dari arah depan, bukan dari arah belakang. Dengan demikian, setiap manusia bukanlah berlari dikerjar takdir kematian, tetapi sesungguhnya sedang dalam perjalanan menuju titik kematian yang adanya di depan sana.

Ada yang menarik dari teori Steven Hawkins bahwa sebenarnya penyebab kepunahan manusia adalah agresinya sendiri. Sifat agresif dan ingin berkuasa di dalam diri manusialah yang menyebabkan mahluk Allah ini, nantinya akan memuaskan keinginannya dengan menggunakan senjata-senjata canggih. Bila sekarang senjata yang paling ditakuti adalah reaktor nuklir, kelak menurut Steven Hawkins, senjata yang tercanggih yang akan diproduksi manusia adalah reaktor thorium.

Dan, untuk mempersiapkan kondisi ini, manusia harus memiliki asuransi yang dapat menjamin kehidupannya dan berpindah ke planet lain demi mencegah agresi. Secara psikis, para ilmuwan ini sedang menyatakan bahwa manusia sebenarnya ada di dalam perjalanan menuju kepunahannya. Terlepas dari teori yang diungkapkan oleh Hawkins ini, Allah Azza wa Jalla telah memiliki suatu sistem kehidupan yang tidak ada satu pun mahluk-Nya dapat mengubahnya. Apalagi menentangnya.

Pilihan Hidup
Pilihannya sekarang ada di tangan kita, ingin menjadi manusia biasa yang akan punah dan terlupakan begitu saja atau ingin menjadi abadi di kehidupan yang abadi. Maka, Allah Azza wa Jalla menurunkan firmannya di ayat 88 surat Al-Qashash yaitu, “Janganlah kamu sembah bersama Allah, Tuhan yang lain.” Inilah yang disebut dengan syirik. Apa bedanya syirik dengan kafir? Kafir sama sekali mengingkari Allah sebagai Ilaah seluruh kehidupan, sedangkan syirik berarti menyembah tuhan yang lain selain Allah, sementara dia juga menyembah Allah Ta’ala. Inliah mengapa orang Quraisy tidak terima bila dikatakan musyrik karena mereka juga merasa menyembah Allah. Selain mereka juga menyembah tuhan yang lain.

Bila praktek syirik di zaman dahulu menyembah berhala, pergi ke tempat-tempat pesugihan, atau berkolaborasi dengan dukun; maka zaman sekarang tentu bentuknya uang, jabatan, dan perempuan. Orang-orang di zaman ini menjadikan uang yang utama. Demi uang dan jabatan, mereka rela mengorbankan waktu dan apa yang mampu dilakukan. Termasuk mengorbankan waktu shalat. Namun, nanti manakala mereka sudah selesai dengan urusan bisnis atau tendernya, mereka kembali shalat. Nah, inilah salah satu praktek syirik. Bila ditanya apakah mereka musyrik, pasti mereka menolak karena masih merasa Islam dan shalat. Meski di sisa waktu bahkan bolong-bolong. Ada juga yang setelah korupsi, pergi haji. Ada yang setelah melakukan pencucian uang, pergi umrah. Tapi, masih merasa Islam. Inilah yang disebut dengan syirik.

Tinggalkan Syirik
Untuk menjaga manusia dari terpeleset ke dalam jurang syirik inilah, Islam datang. Memurnikan penyembahan hanya kepada Allah saja karena kemusyrikan akan selalu ada. Dari masa ke masa, dengan berbagai kemasan tipu dayanya. Menurut Muhammad Thohiri bin Asyur dalam kitabnya al-Tahrir wal-Tanwir, “Ayat ini membantah teori tradisi dan adat yang membolehkan kemusyrikan karena menurut mereka, mereka tetap menyembah Allah dan bukan musyrik. Apa yang mereka lakukan hanyalah sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala agar apa yang mereka inginkan dapat segera tercapai. Itu semua adalah syirik.”

Poin penting dari ayat ini adalah jauhilah kemusyrikan karena itu adalah kedzalimat yang teramat besar. Menghinakan Allah dan membinasakan diri sendiri. Yang kedua, berhentilah, jika masih ada di antara kita yang menjalankan praktek syirik, berhentilah menyembah dan mengejar uang, jabatan, dan perempuan.

Para suami dan para ayah, Anda bertanggung jawab atas kemurnian aqidah dirimu sendiri dan keluargamu. Cintailah istri Anda karena Allah dan sayangilah anak-anak Anda karena Allah. Ajarkan istrimu dan anak-anakmu untuk mencintai dan menghormati dirimu karena Allah Ta’ala. Karena, jika kamu mengajarkan kepada keluargamu untuk mencintaimu karena uang, maka di masa tua engkau akan sengsara. Karena, anak-anak akan mengukurmu dari seberapa banyak uangmu. Di saat engkau muda dan memiliki banyak uang, mereka mencintaimu dan ada di sekelilingmu, tetapi manakala engkau tua, lemah, dan tidak punya uang; maka engkau akan dicampakkan.

Oleh karena itu, mari kita mulai dari keluarga kita dari semenjak hari ini. Untuk terutama membuat anak dan istri kita mencintai apa pun yang ada di dalam keluarga karena Allah, karena Rasulullah saw, dan karena Al-Quran sebelum menyesal.

Kedua, Laa Ilaaha Ilaahuwa, inilah alasan mengapa kita tidak boleh menduakan Allah Ta’ala. Mengapa kitab oleh menyembah kepada selain Allah? Karena memang tidak ada Tuhan selain Dia. Tiada yang benar untuk disembah selain Allah Ta’ala. Dialah Allah, satu-satunya dan tidak pernah dapat tergantikan.

Oleh karena itu, saya ingin berpesan. Perbanyaklah membaca Laa Ilaaha Ilallah dalam keseharian kita. Minimal 100 kali di awal pagi. Orang yang tidak banyak membaca kalimat tahlil, orang yang kosong lidahnya dari kalimat tauhid, otomatis setanlah yang ada di dalam jiwanya. Hawa nafsulah yang menguasainya dan lisannya bukanlah Allah yang mengendalikannya. Sedangkan orang hidup dalam naungan kalimat tauhid, maka ketauhidan pula yang kelak akan menaunginya di hari dimana tidak ada yang dapat menolong kita kecuali Allah saja. Hingga kelak dapat hidup dalam keabadian di surga-Nya yang selama ini kita dambakan. Aamiin Ya Allah.*

More To Explore